Assituruseng: Hegemoni Budaya Dalam Praktik Politik dan Kekuasaan di Belawa

Andi Muhammad Yusuf

Abstract


Local cultural symbols have been used massively along with the spirit of primardialism, subtituting javaneseness nationalism of the New Order. This article aims to examine Bugis cultural values and the shift of meaning used as the preference in the political practice that support power relations. To the present, in the era of local autonomy, the old order has reborn in Buginese culture and force the cultural legitimacy, such as reproduced values and eve more related the political practices and power struggles. Such tendency has resulted in the division of Belawa community into two groups those who geneologically have political power (anakarung) and those who have not. This has formed a patronage stucture relationship based on delicate agreement (assituruseng). Such a values has cultural legacy which is then reproduced as an instrument in the political practice and maintain power domination by anakarung. Such a strategy is a hegemonic effort, utilizing various components of Bugis cultural through symbols and adages.

Keywords


Assituruseng; cultural values; hegemony; political practice; power.

Full Text:

PDF

References


Abidin, Andi Zainal. (1985). Wajo Abad XV – XVI. Bandung: Penerbit Alumni

Almond, Gabriel dan Verba, Sydney. (1984). Budaya Politik: Tingkah Laku Politik dan Demokrasi di 5 Negara. Jakarta: Bina Aksara.

Anderson, Benedict R. O’G. (1990). Kuasa Kata: Jelajah Budaya-Budaya Politik di Indonesia. Yogyakarta: Matabaru.

Antlov, Hans. (2002). Negara Dalam Desa: Patronase Kepemimpinan Lokal (terj). Yogyakarta: Lappera Pustaka Utama.

Arifin, Indar. (2010). Birokrasi Pemerintahan dan Perubahan Sosial Politik di Kabupaten Wajo. Makassar: Pustaka Refleksi.

Bakti, Andi Faisal. (2007). Diaspora Bugis Di Alam Melayu Nusantara. Makassar: Ininnawa.

¬¬¬¬¬¬¬______________¬_. (2009). Kekuasaan Keluarga di Wajo Sulawesi Selatan dalam Henk Schulte Nordholt dan Gerry van Klinken (ed.) Politik Lokal di Indonesia. Jakarta: KITLV-Yayasan Obor Indonesia, 491-504.

Bourchier, David. (2010). Kisah Adat Dalam Imajinasi Politik Indonesia dan Kebangkitan Masa Kini dalam James J Davidson, David Henley dan Sandra Moniaga (ed.). Adat Dalam Politik Indonesia. Jakarta: KITLV-Yayasan Obor Indonesia, 125-164.

Fashri, Fauzi. (2007). Penyingkapan Kuasa Simbol. Yoyakarta: Juxtapose.

Mattulada. (1995). Latoa: Satu Lukisan Analitis Terhadap Antropologi Politik Orang Bugis. Ujung Pandang: Hasanuddin University Press.

McGlynn, dan Arthur Tuden. (2000). Pendekatan Antropologi pada Perilaku Politik. Jakarta: UI Press

Meiyani, Eliza. (2008). Bati Na Wija Dalam Sistem Kekerabatan Orang Bugis-Bone: Suatu Analisis Antropologi Sosial. Disertasi. Makassar: Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin.

Millar, Susan. (2009). Perkawinan Bugis: Refleksi Status Sosial dan Dibaliknya. Makassar: Ininnawa.

Nordholt, Schulte. (2002). Kriminalitas, Modernitas dan Identitas Dalam Sejarah Indonesia. Yogyakarta: Yogyakarta.

Pelras, Christian. (2005). ‘Budaya Bugis: Sebuah Tradisi Modernitas’ dalam Kathryn Robinson dan Mukhlis Paeni. (ed.), Tapak-Tapak Waktu: Kebudayaan, Sejarah, dan Kehidupan Sosial di Sulawesi Selatan. Makassar: Ininnawa, 37-51.

_____________. (2006). Manusia Bugis. Jakarta: Nalar bekerjasama dengan Forum Jakarta- Paris (EFEO).

Rahim, Abdul R. (2011). Nilai-Nilai Utama Kebudayaan Bugis. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Robinson, Kathryn. (2005). ‘Pendahuluan dan Pengantar Tentang Konferensi’ dalam Kahtryn Robinson dan Mukhlis Paeni (ed.), Tapak-Tapak Waktu: Kebudayaan, Sejarah, dan Kehidupan Sosial di Sulawesi Selatan. Makassar: Ininnawa, 7-36.

Rudiansjah, Tony. (2009). Kekuasaan, Sejarah dan Tindakan: Sebuah Kajian Tentang Lanskap Budaya. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.

Subijanto, Rianne. (2014). Ruang Publik: Dulu dan Sekarang. LKIP Indoprogress (artikel). Edisi Ke-16 5 April 2014 dalam http://indoprogress.com/2014/04/ruang-publik-dulu-dan-sekarang/ diakses tanggal 27 Juli 2015

Strinari, Dominic. (2009). Populer Culture: Pengantar Menuju Budaya Populer. Jakarta: Ar-Ruzz Media.

Tahara, Tasrifin. (2014). Melawan Streotip: Etnografi, Reproduksi, Identitas dan Dinamika Masyarakat Katobengke Yang Terabaikan. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Yusuf, A.M. (2012). Reproduksi Status Tradisional Dalam Praktik Politik di Kabupaten Wajo. Skripsi: Universitas Hasanuddin. Makassar.

Zuhro, S., Sumarno, Wenny Pahlemy, Nurul Rochayati, Lilis Mulyani, dan Israr Iskandar (2009). Demokrasi Lokal: Perubahan dan Kesinambungan Nilai-Nilai Budaya Politik Lokal di Jawa Timur, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan dan Bali. Yogyakarta: Penerbit Ombak.




DOI: http://dx.doi.org/10.31947/etnosia.v2i1.2956

Refbacks



Copyright (c) 2017 ETNOSIA : Jurnal Etnografi Indonesia

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

 

ETNOSIA: Journal Etnografi Indonesia has been indexed in : 

        

____________________________________________________

ETNOSIA: Jurnal Etnografi Indonesia

Department of Anthropology

Faculty of Social and Political Sciences, Hasanuddin University

Makassar, Indonesia.

email: jurnal.etnosia@gmail.com; jurnal.etnosia@unhas.ac.id

 

 

 Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.