KEDUDUKAN ELITE KESULTANAN DALAM MASYARAKAT TERNATE

Hasmawati Hasmawati, Rustam Hasim

Abstract


Noble people from circle of Sultanate of Ternate construct and maintain their power base by creating the magical aspect of religious and Culture. This hegemonic strategy allowed this group to pose a certain powerful position and to have a certain place in the heart of the people of Ternate. There are, at least, four important heritage elements in the Sultanate of Ternate used as a strategy to form and strengthen their position. The first is the doctrine Jou se Ngofangare (king and servant) which means
Sultan as the representation of God's power (macro cosmos). Second is the mythical Seven Princess, which justifies the Sultan position by using magical-religious as a means to gain people consent. Third, this group tends to use their noble title and heirloom as signs of charisma and sacred magical power. Those heirlooms such as sword and title function to legitimize the Sultan as ruler. Fourth, Kadaton (palace) which produces cultural meaning as the highest indigenous identity and the source
of magical belief.
Key words: Sultan Ternate, Bobato dunia, Bobato Akhirat, Ternate society


References


A.B. Lapian, dalam pengantar Memorie van Overgave J.H. Tobias (1857)-

Memorie van Overgave C. Bosscher Residen Ternate (1859), Jakarta:

ANRI, 1980

Abdul Hamid Hasan, Aroma Sejarah dan Budaya Ternate. Jakarta: Pustaka Utama, 2000.

Adnan Amal, Kepulauan Rempah-Rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250 – 1950. Jakarta: Gora Pustaka Indonesia, 2007.

B. Soelarto, Sekitar Tradisi Ternate. Jakarta: Proyek Pengembangan

Media Kebudayaan Departemen Pendidikan Kebudayaan RI, 1982.

Clifford Geertz, Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya, 1981.

Christiaan Frans van Fraasen, Ternate, “De Molukken en De Indonesische Archipel, Van Soa Organisatie en Vierdeling: Een Studie van Traditionele Samenleving en Cultuur en Indonesia”, Disertasi Universiteit Leiden, 1987.

Djoko Suryo, et al. Agama dan Perubahan Sosial Studi: Tentang Hubungan Antara Islam, Masyarakat dan Struktur Sosial Politik Indonesia. Yogyakata: UGM LKPSM. 2001.

Darsiti Soeratman, Kehidupan Dunia Keraton Surakarta 1830-1939.

Yogyakarta: Yayasan Untuk Indonesia, 2002.

Edwrd L Poelinggomang, Perubahan Politik dan Hubungan Kekuasaan

Makasar 1906-1942. Ombak: 2004

F.S.A. de Clercq, Ternate: Karesidenan dan Kesultanan. Terjemahan Noer Fitriyanti dari, Bijdragen tot de kennis der Residentie Ternate, 1890.

Ternate: Komunitas Uma Sania, 2007.

Jusuf Abdulrahman, Kesultanan Ternate;Dalam Jou Ngon Ka Dada Madopo Fangare Ngona Ka Alam Madiki. Manado: Media Pustaka, 2002.

Leonard Y. Andaya, The World of Maluku: Eastern Indonesia in the

Early Modern Period. Honolulu:University of Hawaii Press, 1993.

L. E. Visser, (ed), Halmahera and Beyond, Social Science Research in The Moluccas. Leiden: KITLV Press, 1994.

Masinambaw E.K.M. (ed.) Halmahera dan Raja Ampat Sebagai Kesatuan Majemuk. Suatu Studi Terhadap Suatu Daerah Transisi. Jakarta: LEKNAS-LIPI,1980.

Mudaffar Syah, Eksistensi Kesultanan Ternate dalam Sistem Tatanegara

Republik Indonesia. Ternate : Goheba, 2009.

Radjiloen L. Dataran Tinggi Foramadiahi adalah Ternate Awal Ke Dataran Rendah Limau Jore-jore Sebagai Ternate Akhir, Ternate: Depdikbud, 1982.

R.Z. Leirissa, Maluku Dalam Perjuangan Nasional Indonesia. Jakarta:

Lembaga Sejarah Fakultas Sastra UI 1975.

R. van Hoevell, Sejarah Kepulaun Maluku: Kisah Kedatangan Orang

Eropa Hingga Monopoli Perdagangan Rempah. Yogyakarta:

Ombak, 2014.

Rustam Hasim “ Sultan Dalam Sejarah Politik Ternate” Disertasi FIB UGM, 2017.

Shaleh A. Putuhena, Struktur Pemerintahan Kesultanan Ternate

dan Agama Islam. Jakarta: Leknas LIPI, 1987.

Sutrisno Kutoyo, Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan

Kebudayaan RI, 1977.

Sartono Kartodirdjo, Pemikiran dan Perkembangan Historiografi

Indonesia Suatu Alternatif. Jakarta: Gramedia, 1982.

Soemarsaid Moertono, Negara dan Usaha Binna Negara di Jawa Masa

Lampau:Studi Tentang Mataram II Abad ke XVI Sampai XIX. Jakarta:

Yayasan Obor Indonesia, 1985.

Suhartono W. Pranoto, Serpihan Budaya Feodal. Yogyakarta: Agastya Media, 2001.




DOI: http://dx.doi.org/10.34050/jib.v5i2%20Desember.2884

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




P-ISSN: 2354-7294
E-ISSN: 2621-5101