Konsentrasi Bahan Organik dalam Sedimen Dasar Perairan Kaitannya dengan Kerapatan dan Penutupan Jenis Mangrove di Pulau Pannikiang Kecamatan Balusu Kabupaten Barru

Ayu Lestaru, Amran Saru, Mahatma Lanuru

Abstract


Penelitian telah dilaksanakan pada Agustus 2017. Lokasi penelitian Pulau Pannikiang Kabupaten Barru. Tujuan untuk mengetahui perbedaan kandungan bahan organik disetiap jenis mangrove dan hubungan kerapatan dan penutupan jenis mangrove dengan kandungan bahan organik di sedimen. Pengambilan data mangrove dan sampel bahan organik berdasarkan jenis mangrove dominan di pulau pannikiang. Pengambilan data dengan menggunakan metode transek (Line transect) dengan luas plot 10 x 10 meter pada ke tiga stasiun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada jenis mangrove dominan dan tumbuh berkelompok antar jenis mangrove di pulau Pannikiang tidak berbeda kandungan bahan organiknya sedangkan stasiun jenis mangrove dengan stasiun yang tidak ditumbuhi mangrove berbeda kandungan bahan organiknya. Hal ini dikarenakan bahwa keberadaan bahan organik dipengaruhi oleh kerapatan dan penutupan jenis mangrove. Hasil pengukuran kerapatan di setiap jenis mangrove tergolong dalam kategori sedang yang berkisar antara 0,06 – 0,12 (individu/m2). Kandungan bahan organik tertinggi pada stasiun 1 jenis mangrove Rhizophora apiculata adalah 32,83% dan stasiun 3 Rhizophora stylosa 30,57%. Hubungan kerapatan jenis mangrove dengan kandungan bahan organik menggunakan analisis linear diperoleh nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,353, sedangkan nilai koefisien korelasi diperoleh sebesar 0,594 yang berarti berkorelasi positif antara kandungan bahan organik dengan kerapatan jenis mangrove. 

Kata kunci: Ekosistem Mangrove, Jenis Sedimen dan Kandungan Bahan Organik di Pulau Pannikiang 


Full Text:

PDF

References


Anwar, 1984. Bahasa Jurnalistik dan Komposisi. Jakarta: Pradaya Paramita.

Ardhana, I W. 2002. Konsep Penelitian Pengembangan dalam Bidang pendidikan dan Pembelajaran. Makalah disampaikan pada Lokakarya Nasional Angkatan II Metodologi Penelitian Pengembangan Bidang Pendidikan dan Pembelajaran. (Skripsi).

Bahar, A. 2015. Pedoman Survei Laut. Makassar: Masagena Press. Makassar.

Bengen, D.G., 2001. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor, Indonesia.

Buckman, H. O. dan N. C. Brady. 1982. Ilmu Tanah. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Dahuri, R., Rais J, dan Ginting. S.P., M.J. 1996. Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Secara Terpadu. Pradnya Paramitha, Jakarta

Darmadi, M. W. Lewaru dan A.M.A. Khan. 2012. Struktur Komunitas Vegetasi Mangrove Berdasarkan Karakteristik Substrat di Muara Harmin Desa Cangkring Kecamatan Cantigi Kabupaten Indramayu. Jurnal Perikanan dan Kelautan. 3(3): 347 – 358.

Efriyeldi. 1997. Struktur Komunitas Makrozoobentos dan Keterkaitannya dengan Karakteristik Sedimen di Perairan Muara Sungai Bantan Tengah, Bengkalis. Tesis Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. 102 hal.

English. 1994. Survey Manual for Tropical Marine Resources. Australian Institute of Marine Science. Townsville

Ghufran, M dan Kordi, K. 2012. Ekosistem Mangrove Potensi, Fungsi dan Pengelolaan. Rineka Cipta. Jakarta.

Gunkel W. 1976. Organic Substrate. Bacteria, Fungy and Blue Green Algae. John Wiley and Sons Inc. New York.

Halidah. 2014. Penyebaran Alami Avicennia marina (Forsk) Vierh dan Sonneratia alba Smith pada Substrat Pasir di Desa Tiwoho, Sulawesi Utara. Indonesian Rehabilitation Forest Journal, 1 (1) 51-58.

Hutabarat, S dan S.M. Evans. 1995. Pengantar Oceanografi. Universtas Indonesia Press, Jakarta.

Irwanto, 2006. Keanekaragaman Fauna Pada Habitat Mangrove. Yogyakarta.

Jalil, A.R., M. Lanuru., W. Samad., dan M. Hatta (ed). 2015. Pedoman Survei Laut. Makassar: Masagena Press. Makassar.

Kushartono, E W. 2009. Beberapa Aspek Bio-Fisik Kimia Tanah di Daerah Mangrove Desa Banggi Kabupaten Rembang. Jurusan Ilmu Kelautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Diponegoro. Semarang.

Kusmana, C. 2002. Ekologi Mangrove. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor

Menteri Negara Lingkungan Hidup. 2004. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 201 Tahun 2004 tentang Kriteria Baku dan Pedoman Kerusakan Mangrove. Menteri Negara Lingkungan Hidup. Jakarta.

Noor, Y., R. 2006. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. Wetland International – Indonesia Programme. Bogor.

Nybakken, J. W. 1988. Biologi Laut. Suatu Pendekatan Ekologis. Gramedia. Jakarta.

Saru, A. 2013. Mengungkap Potensi Emas Hijau di Wilayah Pesisir. Masagena Press. Makassar

Saru, A., K. Amri, dan Mardi. 2017. Konektivitas Struktur Vegetasi Mangrove Dengan Keasaman dan Bahan Organik Total pada Sedimen di Kecamatan Wonomulyo Kabupaten Polewali Mandar. Jurnal SPERMONDE, 3(1):1-6

Yusuf, S., B. Selamat., K. Amri., A.l. Burhanuddin, dan Mashoreng. S. 2016. Kondisi Terumbu Karang dan Ekosistem Terkait di Liukang Tuppabbiring Kabupaten Pangkep. Coremap-CTI; Jakarta.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.