KADAR NDF DAN ADF KULIT BUAH KAKAO YANG DIFERMENTASI SECARA BERTINGKAT MENGGUNAKAN Trichoderma viride DAN Saccharomyces cerevisiae (NDF and ADF Levels of Cocoa Pod Husk Gradually Fermented Using Trichoderma viride and Saccharomyces cerevisiae)

Authors

  • Andrik Lesmana Fakultas Peternakan Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto
  • Ning Iriyanti Fakultas Peternakan Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto
  • Titin Widiyastuti Fakultas Peternakan Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto

Abstract

The research aimed to examine the effect of gradual fermentation using Trichoderma viride and Saccharomyces cerevisiae and its most optimal level of use on lowering NDF and ADF levels of cocoa pod husks. The experiment was conducted experimentally according to a completely randomized design (CRD) consisted of four treatments and five replications. The treatments were  R0: cocoa pod husks without fermentation, R1: cocoa pod husk fermentation (T. viride 4% and S. cerevisiae 4%), R2: cocoa pod husk fermentation (T. viride 8% and S. cerevisiae 8%), R3: cocoa pod husk fermentation (T. viride 12% and S. cerevisiae 12%). Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) with the orthogonal polynomial test. The results showed that the gradual fermentation using T. viride and S. cerevisiae was highly significant in reducing levels of NDF and ADF of cocoa pod husks, following  the equation Y = 78.926 – 0.087X – 0.092 X2 + 0.007 X3,  (R2) = 93.4% and Y = 75.274 – 5.698X + 1.277 X2 – 0.073 X3, (R2) = 99.5%, respectively. In conclusion, the optimal level of using T. viride and S. cerevisiae in lowering the levels of NDF of cocoa pod husk was 9.21%, which can reduce the NDF level as much as 3.98%, while the optimal level of using  T. viride and S. cerevisiae in lowering the levels of NDF of cocoa pod husks was 3.01%, which can decrease the ADF level as much as 10.01%.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Arief, R. 2001. Pengaruh penggunaan jerami pada amoniasi terhadap daya cerna ndf, adf dan ads dalam ransum domba lokal. Jurnal Agroland, 8(2): 208-215.

Azizah, N., A. N. Al-Baarri, dan S. Mulyani. 2012. Pengaruh lama fermentasi terhadap kadar alkohol, pH, dan produksi gas pada proses fermentasi bioetanol dari whey dengan substitusi kulit nanas. Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan, 1 (2): 72-77.

Fardiaz, S. 1989. Mikrobiologi Pangan, PAU Pangan dan Gizi. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Ginting, S. P. 2004. Tantangan dan Peluang Pemanfaatan Pakan Lokal untuk Pengembangan Peternakan Kambing di Indonesia. Prosiding Lokakarya Nasional Kambing Potong. Bogor. pp. 61-77.

Hasanuddin, A. 2002. Penggunaan dedak padi yang difermentasi Neurospora sp. sebagai pengganti jagung dalam ransum ayam petelur. Agroland, 9(1): 74-79.

Mulyatni, A. S., A. Budiani dan D. Taniwiryono. 2012. Aktivitas antibakteri ekstrak kulit buah kakao (Theobroma cacao L.) terhadap Escherichia coli, Bacillus subtilis, dan Staphylococcus aureus. Jurnal Menara Perkebunan, 80(2): 77-84.

Perez, J., J. M. Dorado, T. de La Rubia, and J. Martinez. 2002. Biodegradation and biological treatments of cellulose, hemicellulose and lignin : an overview. Int. Microbial., 5: 53-63.

Puastuti, W dan D. Yulistiani. 2011. Ransum berbasis kulit buah kakao yang disuplementasi Zn organik: Respon pertumbuhan pada domba. JITV, 16: 269-277.

Puastuti, W., dan I. W. R. Susana. 2014. Potensi dan pemanfaatan kulit buah kakao sebagai pakan alternatif ternak ruminansia. Watazoa, 24(3): 151-159.

Setiawan, G., T. Dhalika, dan Mansyur. 2014. Pengaruh penambahan mikroba lokal (MOL) terhadap kadar neutral detergent fiber dan acid detergent fiber pada ransum lengkap terfermentasi. Students E-Journal, 3(2): 1-11.

Sianipar, J. and K. Simanihuruk. 2009. Performans kambing sedang tumbuh yang mendapat pakan tambahan mengandung silase kulit buah kakao. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. pp 435-441.

Soeharsono. 2010. Probiotik. Basis Ilmiah, Aplikasi, dan Aspek Praktis. Widya Padjajaran, Bandung.

Steel, R. G. D., and Torrie, J. H. 1991. Prinsip dan Prosedur Statistika: Suatu Pendekatan Biometrik. Terjemahan : B. Sumantri. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Suparjo. 2000. Analisis Secara Kimiawi. Skripsi. Fakultas Peternakan, Jambi. (Tidak dipublikasikan).

Syahrir dan M. Abdeli. 2005. Analisis kandungan zat-zat makanan kulit buah kakao yang difermentasi dengan Trichoderma sp. sebagai pakan ternak ruminansia. Jurnal Agrisains, 6 (3): 157-163.

Tribak, M., J. A. Ocampo, I. Garcia-Romera. 2002. Production of Xyloglucanolytic enzymes by Trichoderma viride, Paecilomyces farinosus, Wardomyces inflatus, and Pleurotus ostreatus. Mycologia, 3(1): 404-410.

Utomo, R. 2001. Penggunaan Jerami Padi Sebagai Pakan Basal : Suplementasi Sumber Energi dan Protein Terhadap Transit Partikel Pakan, Sintesis Protein Mikrobia, Kecernaan, dan Kinerja Sapi Potong. Disertasi. Fakultas Peternakan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Van Soest P. J. 1976. New Chemical Methods for Analysis of Forages for The Purpose of Predicting Nutritive Value. Pref IX International Grassland Cong.

Zain, M. 2009. Substitusi rumput lapangan dengan kulit buah coklat amoniasi dalam ransum domba lokal. Media Peternakan, 3(2): 47-50.

Zakariah, M. A., R. Utomo, and Z. Bacharuddin. 2016. Pengaruh inokulasi Lactobacillus plantarum dan Saccharomyces cerevisiae terhadap fermentasi dan kecernaan in vitro silase kulit buah kakao. Buletin Peternakan, 40(2): 47-50.

Downloads

Published

2020-07-28

Issue

Section

Articles