AGAM WISPI: SASTRA UNTUK MANUSIA

Albertus Harimurti

Abstract


Sekitar tahun 1960, kesempatan untuk belajar ke negeri-negeri komunis seperti China dan Rusia amatlah terbuka bagi para intelektual bangsa Indonesia. Kesempatan ini kemudian dipergunakan para sastrawan maupun sarjana untuk menimba ilmu di luar negeri. Namun, setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965, para intelektual tersebut tidak dimungkinkan kembali ke Indonesia. Ketidakmungkinan ini akibat ancaman pembantaian rezim Soeharto terhadap mereka yang dilabeli PKI (Partai Komunis Indonesia), termasuk para intelektual yang telah mengikuti program belajar di negeri komunis. Akibatnya, para intelektual tersebut banyak yang kemudian menjadi eksil (displaced persons). Lewat pengalaman yang diceritakan oleh Agam Wispi, tulisan ini berusaha memahami bagaimana dunia atau subyektivitas yang terbentuk dari orang-orang eksil sebagaimana Agam Wispi. Meskipun demikian, Agam Wispi hanyalah satu contoh dari sekian banyak eksil, yang artinya pengalamannya bukan berarti mewakili semua eksil asal Indonesia. Uniknya, pengalaman Agam Wispi menunjukkan bahwa ketersingkirannya dan ketercerabutan identitasnya (hidup di-antara) dari negara-bangsa Indonesia justru membukakan pintu bagi energi kreatif dalam dirinya, yakni sastra ambang yang berpihak pada manusia dan makhluk hidup.


Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.34050/jlb.v13i1.4079

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


INDEXING