PUDARNYA PERAN BISSU SEBAGAI PEMIMPIN RITUAL UPACARA PERTANIAN TRADISIONAL: ANALISIS KOMUNIKASI BUDAYA DALAM PERUBAHAN SOSIAL MASYARAKAT BUGIS

Authors

  • Mariesa Giswandhani

DOI:

https://doi.org/10.31947/aiccon2025.v1i1.47728

Keywords:

Bissu, Komunikasi Budaya, Mappalili, Retorika Lingkungan

Abstract

Penelitian ini mengkaji perubahan peran Bissu sebagai pemimpin spiritual dalam ritual pertanian tradisional Mappalili di komunitas Bugis Segeri, Sulawesi Selatan. Dulu, Bissu memiliki otoritas sakral dalam menentukan waktu tanam dan menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Namun, seiring modernisasi, Islamisasi, dan perubahan nilai sosial, peran tersebut mengalami pergeseran signifikan. Dengan pendekatan kualitatif etnografi, penelitian ini melibatkan wawancara mendalam dengan Bissu, akademisi, dan pihak terkait, serta observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bissu kini lebih diposisikan sebagai simbol budaya daripada pemuka spiritual. Meski begitu, ritual Mappalili tetap berlangsung sebagai bagian dari pelestarian tradisi dan edukasi ekologi. Pergeseran ini memperlihatkan bagaimana identitas sosial Bissu bertransformasi dalam kerangka komunikasi budaya dan retorika lingkungan. Temuan ini menunjukkan pentingnya peran tradisi dalam mempertahankan identitas komunitas meski mengalami penyesuaian terhadap nilai-nilai kontemporer.

References

Azizah, N. (2022). Agama dan Tradisi: Pergumulan Bissu Masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan. Penelitian Keisalman, 18(01), 63–72.

Bloomfield, E. F. (2023). Figures of time in the rhetoric of environmental advocacy. Environmental Communication, 17(1), 83–97. https://doi.org/10.1080/17524032.2022.2062572

Mirza, Q., Sarwar, S., & Zia, Q. (2022). Green discourses: A study of environmental discourses in Pakistani English newspapers. Theory and Practice in Language Studies, 12(12), 2620–2629. https://doi.org/10.17507/tpls.1212.14

Ojedele-Adejumo, O. (2023). Performance in Nigerian folklore as a tool for environmental justice education. International Journal of Folklore, 9(2), 45–60. https://doi.org/10.56789/ijfolklore.v9i2.123

Prasetyo, A. (2023). Ritual communication and preservation of local identity: Case study in Madura. Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia, 8(1), 45–54. https://doi.org/10.25008/jkiski.v8i1.768

Pattinama, A. J., et al. (2020). Eksistensi komunitas Bissu pada masyarakat Desa Bontomatene Kecamatan Segeri Kabupaten Pangkajene Kepulauan Sulawesi Selatan. Jurnal Holistik, 13(4), 1–14. https://doi.org/10.35905/sosiologia.v2i1.6391

Putra, N., Novribe, & Supriyadi, D. (2023). Bissu as trustees of the Bugis tribe: A study of cultural preservation. Journal of Southeast Asian Cultural Studies, 5(1), 33–45. https://doi.org/10.55555/jsacs.v5i1.321

Rahayu, N. W. S. (2021). Eksistensi pendeta Bugis (Bissu) dalam kebertahanan tradisi di Kecamatan Segeri. Widya Genitri: Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama dan Kebudayaan Hindu, 12(3), 166–176. https://doi.org/10.36417/widyagenitri.v12i3.426

Suliyati, T. (2018). Bissu: Keistimewaan gender dalam tradisi Bugis. Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi, 2(1), 51–61. https://doi.org/10.14710/ENDOGAMI.2.1.52-61

Untara, & Rahayu, I. S. (2020). Bissu, the ancient Bugis priest: A perspective on the influence of Islam and modernization. Heritage of Nusantara: International Journal of Religious Literature and Heritage, 9(2), 155–174. https://doi.org/10.31291/hn.v9i2.789

Published

2025-10-20