Analisis Risiko Lingkungan Akibat Pajanan PM10 dan PM2.5 Udara Ambien Pada Pedagang Kaki Lima di Kota Bandung
DOI:
https://doi.org/10.70561/pz79w269Abstract
Pencemaran udara PM10 dan PM2.5 yang berasal dari kendaraan bermotor di kawasan perkotaan berdampak negatif terhadap kesehatan, terutama pedagang kaki lima (PKL). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsentrasi PM10 dan PM2.5 serta menilai tingkat risiko kesehatan menggunakan metode Risk Quotient (RQ) terhadap PKL di dua lokasi di Kota Bandung, yaitu Jalan Dipati Ukur dan Jalan Lengkong Kecil. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Pengukuran langsung menggunakan alat PM Counter HT-9600 pada tiga titik di tiap lokasi selama empat hari. Jumlah sampel terdiri dari 36 pedagang di lokasi 1 dan 31 pedagang di lokasi 2. Rata-rata PM10 dan PM2.5 di lokasi 1 lebih tinggi, yaitu 44,01 μg/m³ dan 39,71 μg/m³ dibandingkan dengan Lokasi 2 sebesar 29,20 μg/m³ dan 26,23 μg/m³. Keduanya masih memenuhi baku mutu PP No. 22/2021. Nilai ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara) untuk PM10 dan PM2.5 untuk Lokasi 1 adalah 47,01 dan 80,34, sedangkan lokasi 2 sebesar 39,60 dan 63,44 (kategori Baik hingga Sedang). Nilai Intake PM10 dan PM2.5 di Lokasi 1 adalah 0,0473 mg/kg/hari dan 0,0397 mg/kg/hari, sedangkan di Lokasi 2 sebesar 0,0286 mg/kg/hari dan 0,0263 mg/kg/hari. Sebanyak 21 pedagang di Lokasi 1 memiliki RQ PM10 > 1 dan 29 pedagang RQ PM2.5 > 1, yang menunjukkan kategori tidak aman. Sebaliknya, seluruh responden di Lokasi 2 memiliki RQ ≤ 1 (kategori aman). Upaya mitigasi terhadap dampak polusi udara adalah pemantauan kualitas udara secara rutin dan penggunaan masker N95.
