NARASI KUTUKAN SEBAGAI MITOS BUDAYA

ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES TERHADAP SUMPAH LELUHUR DALAM FILM LAKUNA

Authors

  • Fitriansal Universitas Negeri Makassar

DOI:

https://doi.org/10.34050/jib.v14i2.51948

Abstract

Penelitian ini menganalisis konstruksi narasi kutukan sebagai mitos budaya dalam film Lakuna yang merepresentasikan sumpah leluhur masyarakat Bugis-Makassar menggunakan semiotika Roland Barthes (denotasi, konotasi, mitos). Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif interpretatif dengan data primer dari naskah film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat denotasi, sumpah leluhur merupakan deklarasi verbal yang mengikat lintas generasi dengan otoritas sosial tokoh bangsawan. Pada tingkat konotasi, sumpah berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial, otoritas moral tanpa verifikasi empiris, dan pencipta ketakutan kolektif. Pada tingkat mitos, film menaturalisasi kutukan melalui legitimasi leluhur, internalisasi ketakutan, dan pembuktian kutukan melalui penderitaan tokoh. Meskipun tokoh Naya menunjukkan perlawanan, struktur naratif film justru menghukum perlawanan tersebut sehingga mereproduksi mitos kutukan sebagai kebenaran yang tak dapat dilawan. Narasi kutukan dalam film Lakuna memiliki tiga fungsi ideologis: kontrol sosial, legitimasi status quo adat, dan produksi kepasrahan kolektif.

Kata Kunci: narasi kutukan; mitos budaya; semiotika Roland Barthes; film Lakuna

Additional Files

Published

2026-07-25