Analisis Ketergantungan Konsumsi Beras Banjar Pada Masyarakat Kalimantan Selatan

Isi Artikel Utama

Yuriadi Ilmi
Sadik Ikhsan
Hamdani Hamdani

Abstrak

Abstrak


 


Masyarakat Kalimantan Selatan terkenal dengan fanatisme mereka terhadap konsumsi beras Banjar. Beras Banjar adalah beras yang berasal dari padi varietas lokal (siam, unus, mayang) dengan karakteristik tekstur yang padat, pera dan berbulir kecil. Produktivitas jenis padi ini lebih rendah dibandingkan dengan padi unggul yang menjadi fokus dari program peningkatan produksi pemerintah. Program ini turut menekan produksi beras Banjar dan menjadikan harganya naik secara signifikan di pasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar ketergantungan masyarakat Kalimantan Selatan terhadap konsumsi beras Banjar, sehingga bisa dirumuskan program peningkatan produksi beras yang lebih sesuai dengan kearifan lokal dan selera masyarakat. Penelitian dilaksanakan di 5 kabupaten/kota sampel survei biaya hidup , Banjarmasin, Tanah Laut, Kotabaru, Tanjung dan Hulu Sungai Tengah, pada bulan Januari–Desember 2022. Lokasi penelitian dipilih karena dianggap mampu merepresentasikan pola konsumsi pada masyarakat Kalimantan Selatan dan mewakili daerah kota, desa, pegunungan, dan pesisir. Sebanyak 7.200 responden dari ke-5 kota tersebut dipilih secara stratified random sampling berdasarkan kategori pendidikan kepala rumah tangga dan jumlah anggota rumah tangga. Analisis dilakukan menggunakan model Quadratic Almost Ideal Demand System – Censored (QUAIDS-CE), dengan mendapatkan matriks koefisien elastisitas, baik elastisitas beras Banjar, elastisitas silang, maupun elastisitas pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beras Banjar dan beras non-Banjar memiliki elastisitas permintaan Marshallian dan Hicksian yang cukup tinggi secara tak terkompensasi, namun rendah secara terkompensasi. Elastisitas harga tak terkompensasi beras Banjar sebesar -1,143 berarti kenaikan harga beras Banjar sebesar 1% akan menurunkan tingkat permintaannya sebesar 1,143 persen. Sementara itu, elastisitas terkompensasi beras Banjar sebesar -0,802 atau bernilai e < 1, yang berarti kenaikan harga tidak berdampak besar pada penurunan permintaan. Elastisitas silang terkompensasi beras Banjar sebesar 0,60 terhadap beras non-Banjar, yang berarti kenaikan harga 1% pada komoditas ini menaikkan konsumsi beras non-Banjar sebesar 0,60 persen. Elastisitas pendapatan untuk beras Banjar sebesar 1,07, dan menjadikannya barang mewah/superior.


Kata kunci:  elastisitas, beras Banjar, Quaid-CE, harga, konsumsi.

Rincian Artikel

Cara Mengutip
Ilmi, Y., Ikhsan, S., & Hamdani, H. (2026). Analisis Ketergantungan Konsumsi Beras Banjar Pada Masyarakat Kalimantan Selatan. Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian, 22(1), 117–132. Diambil dari https://journal.unhas.ac.id/index.php/jsep/article/view/52229
Bagian
Articles

Referensi

Kalimantan Selatan

Artikel Serupa

1 2 3 4 5 6 7 8 > >> 

Anda juga bisa Mulai pencarian similarity tingkat lanjut untuk artikel ini.