Analisis Kontrastif Verba Oriru dalam Bahasa Jepang dan Verba Turun dalam Bahasa Indonesia
DOI:
https://doi.org/10.69908/nawa.v2i2.43603Kata Kunci:
contrastive, oriru, turun, verbAbstrak
This study aims to explain the structure and meaning of the verb oriru in Japanese, the structure and meaning of the verb turun in Indonesian, as well as to identify the similarities and differences between them. The data for this research were obtained from various online sources, such as linguistic corpora, Liputan6, Suara Merdeka Online, and others. This research employs a qualitative descriptive method. The observation method with note-taking technique was used for data collection. For data analysis, a contrastive technique was applied and the results were further classified. Based on the analysis, the verb oriru in Japanese is classified as an intransitive verb that can form part of a phrase and can conjugate to form compound verbs. The verb oriru has one core meaning and eight extended meanings. Meanwhile, the Indonesian verb turun is also an intransitive verb that can be used in phrases and conjugated into compound verbs. It has one core meaning and thirteen extended meanings. The similarities between oriru and turun are: (1) Both are intransitive verbs; (2) Both can be part of a phrase; (3) Both can conjugate and form compound verbs; (4) Three meanings of oriru and three meanings of turun share semantic equivalence. As for the differences, there are seventeen semantic distinctions between the two verbs.
Referensi
Afrizal, 2016. Metode penelitian kualitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Akimoto, Miharu. 2001. Yoku Wakaru Goi. Tokyo: Aruku.
Aminuddin, 1985. Semantik Pengantar Studi Tentang Makna. Bandung: Sinar.
Chaer, Abdul dan Leoni Agustina. 1995. Sosiolinguistik : Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta:PT Rineka. Cipta.
Chaer, Abdul. 2013. Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Rineka Ciptaa.
Chaer, Abdul. 2014. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, Abdul.2012. Linguistik Umum. Yogyakarta: Rineka Cipta.
Departemen Pendidikan Indonesia 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Djajasudarma, Fatimah. T. 1993. Metode Linguistik Ancangan Metode Penelitian dan Kajian. Bandung: PT. Eresco.
Fauziah, P., Kartini2, H., & Artikel, R. (n.d.). Hubungan Regulasi Emosi dengan Intensitas Nyeri Dismenore Primer di SMA Negeri 7 Tangerang Informasi Artikel: A B S T R A K. In Jurnal IMJ: Indonesia Midwifery Journal (Vol. 5).
Harini, Y. N. A., & Permadi, T. (2019). Cerita Tentang Bidadari Mandi dan Fungsinya Sebagai Sarana Konservasi Sumber Daya Air. Klitika: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 1(2). https://doi.org/10.32585/klitika.v1i2.473
Izuru, Shinmura dan Izumu Shinmura. 1995. Kojien. Tokyo: Iwanami Shoten
KALSEL MAJU Kalimantan Selatan Makmur, V., & Berkelanjutan, dan. (n.d.). DINAMIKA PEREKONOMIAN HULU-HILIR SUNGAI. www.bi.go.id/id/institute
Nala, I. M. A., Sangkawati, S., & Putranto, T. T. (2021). Pengaruh Muka Air Waduk Saat Pengisian Awal Terhadap Deformasi dan Rekahan pada Tubuh Bendungan (Studi Kasus: Bendungan Titab). Jurnal Geosains dan Teknologi, 4(3), 168-182. https://doi.org/10.14710/jgt.4.3.2021.168-182
Mahsun, M.S. 2006. Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Muhammad, 2011. Metode Penelitian Bahasa. Jogjakarta: Ar-ruzz media.
Muslich, Masnur. 2007. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Malang: Bumi Aksara.
Novitasari, A., Judiasri, M. D., & Sutedi, D. 2016. Analisis Kesalahan Mahasiswa dalam Menggunakan Verba Furu, Kudaru, Oriru dan Sagaru sebagai Sinonim. JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang, 1(1).
Ratna, Maharani Patria. 2013. Kesinoniman Verba Oriru dalam Bahasa Jepang (Kajian Semantik). IZUMI, 2(2). https://doi.org/10.14710/izumi.2.2.
Roessiana D L; Setiyadi; Sandy BH (2014). Model Persamaan Faktor Koreksi pada Proses Sedimentasi dalam Keadaan Free Settling. Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan, 6(2), 98–106.
Santoso, Teguh. (2015). Kajian Linguistik Kontrastif: Tingkatan Bahasa dalam Bahasa Jepang dan Undak-Usuk bahasa Jawa. Yogyakarta: Morfalingua.
Santoso, dkk. (2025). An NSM-based Contrastive Semantic Analysis of Japanese “Nusumu” and “Toru” with Javanese “Nyolong” and “Njupuk”. Jurnal Posthumanism, Volume:5, No:7, pp.852–862 DOI: https://doi.org/10.63332/joph.v5i7.2847
Shibata, Takeshi. 1997. Shin Meikai Kokugo Jiten. Jepang: Sanseido.
Sudaryanto. 1986. Metode Linguistik: Bagian. Pertama ke Arah Memahami Metode. Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada.
Sudjianto, Dahidi Ahmad. 2004. Pengantar Linguistik Bahasa Jepang. Jakarta: Kesaint Blanc.
Sutedi, Dedi. 2004. Turun Dalam Verba. Bahasa Jepang(Analisis Makna. Verba Oriru, Kudaru, Sagaru, dan. Kudaru). Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang di Indonesia (MUGEN), Vol.1, No.3, 32-56. www.ejje.weblio.com
Sutedi, Dedi. 2011. Dasar-dasar Linguistik Bahasa Jepang (edisi revisi). Bandung: Humaniora Utama Press.
Sutedi, Dedi. 2014. Dasar-dasar Linguistik Bahasa Jepang. Bandung: Humaniora Utama Press.
Tarigan, Henry Guntur. 1992. Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
www.liputan6.com, diakses tanggal22 Agustus 2024
www.detik.com diakses pada tanggal 22 Agustus 2024
dictionary.goo.ne.jp, diakses pada tanggal 4 September 2024
kompas.com, diakse pada tanggal 10 September 2024
tsukubawebcorpus.jp, diakses pada tanggal 24 September 2024
tatoeba.org, diakses pada tanggal 3 Oktober 2024
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Zahro Nadiatul Haqi, Teguh Santoso

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.




