Pesantren dan Politik Lokal:
Jejak Koalisi Moral Dalam Kontestasi Elektoral di Wajo
DOI:
https://doi.org/10.63280/jpsd.v1i2.44346Kata Kunci:
Relasi Politik, Partai Politik, Pesantren, Komunikasi PolitikAbstrak
Pondok Pesantren As'adiyah dan kader Partai Amanat Nasional (PAN) memiliki hubungan erat karena banyak alumni pesantren yang menjadi kader partai. Banyak kader PAN menjabat posisi penting di Parlemen Wajo dan bahkan jabatan Ketua DPP PAN merupakan alumni Pondok Pesantren Asadiyah, sehingga secara tidak langsung akan lebih mudah menjalin komunikasi dengan alumni dan santri Asadiyah yang tergabung dalam PAN. PAN menggunakan strategi politik dengan memperkenalkan santri kepada aktor sesuai ajaran agama dan keadaan di Wajo. Melalui kegiatan keagamaan, PAN menjaga hubungan dengan pesantren, kadang dengan dukungan finansial dan infrastruktur. Selain itu, keberhasilan alumni santri, dan posisi aktor dengan wadah PAN yang berlabel agama sangat menguntungkan dan merupakan extraordinary strategy yang tidak disengaja. Melalui program keagamaan seperti kajian agama, dakwah, dan khutbah jumat serta kegiatan lain seolah merupakan pola komunikasi dan branding-an yang kuat dan sejalan dengan posisi PAN yang bergerak di bidang keagamaan dengan kata kunci “branding Aktor merupakan pendakwah, dan branding komunikasi yang bertajuk silaturahmi”. Keadaan Wajo sebagai kota Santri, Posisi PAN dengan orientasi keagamaan, serta bupati terpilih berlatar belakang Muhammadiyah yang didukung kader timses PAN yang merupakan Alumni Santri Ponpes Asadiyah, hal ini menjadi strategi yang tepat dalam hal untuk mengambil hati pemilih dan menggeser kursi incumbent.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Kategori
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Besse Sri Ratih, Muhammad Al Hamid , Andi Naharuddin

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.





