HUMANITARIANISME AFEKTIF DIGITAL: STUDI KASUS NASI DARURAT JOGJA SEBAGAI GERAKAN CITIZEN AID SEHARI-HARI
Digital Affective Humanitarianism: A Case Study of Nasi Darurat Jogja as a Everyday Citizen Aid Movement
Downloads
This study examines the practice of everyday humanitarianism through the case of Nasi Darurat Jogja, a digital-based citizen aid movement in Yogyakarta providing emergency food and essential assistance. Using Lisa Ann Richey’s framework of everyday humanitarianism and qualitative methods, three key findings emerge. First, NDJ mobilizes affective-digital solidarity by leveraging social media (X/Instagram) to craft empathetic narratives rooted in the founder’s personal experiences, Second, the movement functions as a corrective to rigid formal aid systems, Third, NDJ disrupts conventional humanitarian professionalism through hybrid negotiations: rejecting formal structures (e.g., legal entity) while adopting semi-professionalization (dedicated bank accounts/donation reports) for sustainability; integrating market logic (cross-subsidization via a food stall) without compromising solidarity values; and establishing trust-based accountability through visual social media documentation to replace technical-bureaucratic mechanisms. These findings demonstrate how citizen-led humanitarianism in the Global South redefines humanitarian paradigms via digital affect, operational agility, and creative mediation between moral imperatives and administrative demands, proving local actors’ capacity to address everyday inequalities while critiquing the contextual limitations of formal aid systems.
ABSTRAK
Studi ini menganalisis praktik everyday humanitarianism melalui kasus Nasi Darurat Jogja, gerakan citizen aid berbasis digital di Yogyakarta yang menyediakan bantuan pangan dan pokok darurat. Menggunakan kerangka everyday humanitarianism Lisa Ann Richey dan metode kualitatif, penelitian mengungkap tiga temuan utama: (1) Mobilisasi Solidaritas Afektif-Digital: NDJ memanfaatkan media sosial (X/Instagram) untuk membangun narasi empatis berbasis pengalaman pribadi pendiri, (2) Respons atas Kegagalan Sistem Formal: NDJ muncul sebagai koreksi terhadap rigiditas bantuan formal, dan (3) Disrupsi Norma Profesionalisme: NDJ menegosiasikan norma kemanusiaan konvensional dengan: (1) menolak struktur formal (tanpa badan hukum) namun mengadopsi semi-profesionalisasi (rekening khusus/laporan donasi) untuk keberlanjutan; (2) mengintegrasikan logika pasar (warung makan subsidi silang) sebagai strategi keberlanjutan tanpa mengorbankan nilai solidaritas, serta (3) membangun legitimasi berbasis kepercayaan (trust-based accountability) via dokumentasi visual di media sosial, menggantikan akuntabilitas teknis-birokratis. Temuan menunjukkan bahwa humanitarianisme berbasis warga di Global South menggeser paradigma aktor kemanusiaan melalui afeksi digital, fleksibilitas operasional, dan negosiasi kreatif antara nilai solidaritas dengan tuntutan administratif. NDJ membuktikan kapasitas aktor lokal dalam menciptakan alternatif responsif terhadap ketimpangan sehari-hari, sekaligus mengkritik sistem bantuan formal yang tidak kontekstual.





