Main Article Content

Abstract

Latar Belakang: Stunting merupakan gangguan pertumbuhan fisik pada anak balita akibat ketidakseimbangan nutrisi dan lingkungan yang tidak memadai selama masa pertumbuhan. Data SSGI tahun 2022 melaporkan bahwa prevalensi stunting pada balita di Indonesia mencapai 21,6%. Di Sulawesi Selatan, prevalensi stunting mencapai 27,2%, sementara Kabupaten Pangkep berada di peringkat ke-3 tertinggi sebesar 34,2%. Pada tahun 2020, sekitar 56,93% mengalami stunting di wilayah kerja Puskesmas Taraweang dan terjadi penurunan pada tahun 2023 sebesar 22,31%. Tujuan: Menganalisis faktor risiko pemberian ASI eksklusif, status BBLR, pendidikan ibu, status ekonomi keluarga, dan sanitasi lingkungan terhadap kejadian stunting pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Taraweang. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan rancangan case control study. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak balita yang tercatat di wilayah kerja Puskesmas Taraweang sebanyak 699 anak balita dari bulan November-Desember tahun 2023. Besar sampel adalah 132 sampel, dimana kasus 66 sampel dan kontrol 66 sampel. Sampel diperoleh dengan cara simple random sampling. Hasil: Analisis OR pada penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif (OR=5,12; 95%CI=2,27-11,69), status BBLR (OR=4,55; 95%CI=1,32-19,83), pendidikan ibu (OR=2,67; 95%CI=1,09-6,73), status ekonomi keluarga (OR=3,75; 95%CI=0,89-22,05), dan sanitasi lingkungan (OR=3,01; 95%CI=1,33-6,89) sebagai faktor risiko kejadian stunting pada anak balita. Kesimpulan: Pemberian ASI eksklusif, status BBLR, pendidikan ibu, status ekonomi keluarga, dan sanitasi lingkungan sebagai faktor risiko kejadian stunting pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Taraweang, Kabupaten Pangkep tahun 2023. Disarankan kepada responden dan seluruh masyarakat untuk memberikan ASI eksklusif sesuai anjuran yang ditetapkan kepada anak balita agar meminimalisir kejadian stunting.

Keywords

stunting anak balita faktor risiko

Article Details

Author Biographies

Salsabila Aulia Faizal, Departemen Epidemiologi, FKM Universitas Hasanuddin

Departemen Epidemiologi, FKM Universitas Hasanuddin

Andi Zulkifli Abdullah, Departemen Epidemiologi, FKM Universitas Hasanuddin

Departemen Epidemiologi, FKM Universitas Hasanuddin

Ridwan Amiruddin, Departemen Epidemiologi, FKM Universitas Hasanuddin

Departemen Epidemiologi, FKM Universitas Hasanuddin

How to Cite
Faizal, S. A., Abdullah, A. Z., & Amiruddin, R. (2024). FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA ANAK BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TARAWEANG, PANGKEP TAHUN 2023. Hasanuddin Journal of Public Health, 5(1), 44–59. https://doi.org/10.30597/hjph.v5i1.34854

References

  1. Marni M, Zulkifli A, Thaha RM, Hidayanty H, Stang S, Syafar M, et al. Awareness, Motivation, and Intentions in Preventing Stunting in the Dry Land Area of Kupang Regency, East Nusa Tenggara Province. IJSDP. 2023;18(1):201–217.
  2. Hatta H, Tolinggi S, Hafid W. Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting. Journal of Public Health. 2022;5(2):183–191.
  3. Apriluana G, Fikawati S. Analisis Faktor-Faktor Risiko terhadap Kejadian Stunting pada Balita (0-59 Bulan) di Negara Berkembang dan Asia Tenggara. Media Litbangkes. 2018;28(4):247–256.
  4. Oktaviani NPW, et al. Siaga Stunting di Indonesia. Yayasan Kita Menulis; 2022.
  5. UNICEF, WHO, World Bank Group. Levels and Trends in Child Malnutrition. World Health Organization; 2021.
  6. Kemenkes RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Bidang Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit. Jakarta; 2020.
  7. Kemenkes RI. Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022. Kementrian Kesehatan RI; 2022.
  8. Nirmalasari NO. Stunting pada Anak: Penyebab dan Faktor Risiko Stunting di Indonesia. Qawwam. 2020;14(1):19–28.
  9. Zurhayati Z, Hidayah N. Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita. Journal of Midwifery Science. 2022;6(1):1–10.
  10. Setiawan E, Machmud R, Masrul. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Anak Usia 24-59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Andalas Kecamatan Padang Timur Kota Padang Tahun 2018. Jurnal Kesehatan Andalas. 2018;7(2):275–284.
  11. Sandika P, Afrinis N, Yahya E. Hubungan Motivasi dan Pekerjaan Ibu dengan Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) Dini pada Bayi di Bawah Usia 6 Bulan. PREPOTIF. 2021;5(1):263–270.
  12. Hermawan A. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Stunting pada Balita Usia 25-59 Bulan di Posyandu Wilayah Puskesmas Wonomulyo Tahun 2021. JIK-MC. 2022;1(3):39–49.
  13. Uwiringiyimana V, Osei F, Amer S, Veldkamp A. Bayesian Geostatistical Modelling of Stunting in Rwanda: Risk Factors and Spatially Explicit Residual Stunting Burden. BMC Public Health. 2022;22(159):1–14.
  14. Oktavia N, Mas’odah S. Hubungan Pengetahuan Ibu dan Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Stunting pada Balita. Jurnal Riset Pangan dan Gizi. 2023;5(2):59–70.
  15. Komalasari K, Supriati E, Sanjaya R, Ifayanti H. Faktor-Faktor Penyebab Kejadian Stunting pada Balita. Majalah Kesehatan Indonesia. 2020;1(2):51–56.
  16. Sambo M, Madu YG, Tandiboro AS, Kabo AM. Pemberian ASI Eksklusif sebagai Faktor Risiko Kejadian Stunting pada Anak Usia 3-5 Tahun di Kecamatan Lau Kabupaten Maros. NCHAT. 2024;2(2):122–128.
  17. Salma WO, Harleli, Alifariki LO. Pengembangan Model Edukasi untuk Balita Stunting: Sistematik Rreview. Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan. 2021;12(4):153–164.
  18. Hizriyani R. Pemberian Asi Ekslusif Sebagai Pencegahan Stunting. JJB. 2021;8(2):55–62.
  19. Murti FC, Suryati S, Oktavianto E. Hubungan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 2-5 Tahun di Desa Umbulrejo Kecamatan Ponjong Kabupaten Gunung Kidul. JIKK. 2020;16(2):52–60.
  20. Febriyaeni M, Masrikhiyah R, Ratnasari D. Praktik Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tidak Tepat dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) sebagai Faktor Risiko Stunting pada Anak Usia 12-24 Bulan. Era Klinis: Jurnal Penelitian Ilmu Kesehatan. 2023;1(1):8–12.
  21. Halli SS, Biradar RA, Prasad JB. Low Birth Weight, the Differentiating Risk Factor for Stunting among Preschool Children in India. IJERPH. 2022;19(3751):1–12.
  22. Hastuti WOS. Risk Factors of Stunting in Toddlers in the Work Area Health Center Bone Rombo. Miracle Journal of Public Health. 2021;4(2):224–231.
  23. Safitri NI, Noor NN, Wahiduddin W W, et al. Risk Factors of Stunting in Children Aged 0-23 Months in Katumbangan Health Center, Indonesia. Pharmacogn J. 2023;15(5):851–855.
  24. Tualaka A, Hinga IAT, Riwu RR. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Anak Balita di Puskesmas Alak Kota Kupang Tahun 2022. SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat). 2023;2(1):95–103.
  25. Sumaifa, Soripet M. Hubungan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dan ASI Eksklusif dengan Status Stunting pada Balita di Wilayah Puskesmas Pasir Putih Manokwari. JHNMSA. 2021;2(2).
  26. Valentine NID, Prasetyowati I, Noveyani AE. Hubungan Ibu, Anak, dan Keluarga dengan Balita Stunting Usia 24-59 Bulan. Profesional Health Journal. 2024;5(2):389–405.
  27. Holbala D, Nur ML, Boeky DLA. Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi terhadap Kejadian Stunting. JPAZIH. 2022;11(2):169–177.
  28. Luzingu JK, Stroupe N, Alaofe H, Jacobs E, Ernst K. Risk Factors Associated with Under-Five Stunting, Wasting, and Underweight in Four Provinces of the Democratic Republic of Congo: Analysis of the ASSP Project Baseline Data. BMC Public Health. 2022;22(2422):1–33.
  29. Chowdhury TR, Chakrabarty S, Rakib M, Winn S, Bennie J. Risk factors for Child Stunting in Bangladesh: an Analysis using MICS 2019 Data. Arch Public Health. 2022;80(1):126.
  30. Kitu HON, Syamruth YK, Purnawan S. Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Bakunase Kota Kupang. SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat). 2023;2(3):522–534.
  31. Kaseng YS, Yusuf K, Masithah S, Syamsul M, Hasanah SU. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 24-59 Bulan di Desa Kebesani Kecamatan Detukeli. Jurnal Pendidikan Tambusai. 2023;7(3):30847–30858.
  32. Anggraini, Harleli, Handayani L. Analisis Faktor Risiko Kejadian Stunting pada Balita usia 24-59 Bulan di Lokasi Fokus Stunting Kota Kendari. JHSL. 2024;2(1):31–40.
  33. Nakphong MK, Beltrán-Sánchez H. Socio-Economic Status and the Double Burden of Malnutrition in Cambodia between 2000 and 2014: Overweight Mothers and Stunted Children. Public Health Nutrition. 2021;24(7):1806–1817.
  34. Arianto K, Oktarina M, Ningsih DPS. Hubungan Pendidikan Ibu dan Status Ekonomi Keluarga dengan Stunting Anak Balita Usia 1-4 Tahun. Journal of Health Sciences Leksia. 2024;1(1):18–27.
  35. Mayasari E, Sari FE, Yulyani V. Hubungan Air dan Sanitasi dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Candipuro Kabupaten Lampung Tahun 2021. IJOHM. 2022;2(1):51–9.
  36. Sutriyawan A, Nadhira CC. Kejadian Stunting pada Balita di UPT Puskesmas Citarip Kota Bandung. Jurnal Kesmas Khatulistiwa. 2020;7(2):79–88.
  37. Soe TK, Laohasiriwong W, Sornlorm K, Mahato RK. Safely Managed Sanitation Practice and Childhood Stunting among Under Five Years Old Children in Myanmar. Dehury RK, editor. PLoS ONE. 2023;18(11):1–14.
  38. Olo A, Mediani HS, Rakhmawati W. Hubungan Faktor Air dan Sanitasi dengan Kejadian Stunting pada Balita di Indonesia. JO. 2020;5(2):1113–1126.
  39. Marni L. Dampak Kualitas Sanitasi Lingkungan terhadap Stunting. Jurnal Stamina. 2020;3(12):875–872.
  40. Sumarno TI, Syafiuddin A. Analisis Kualitas Air Sumur dan Sarana Sanitasi dengan Kejadian Stunting di Desa Lokus Stunting Kecamatan Driyorejo. Medical Nutricia: Jurnal Ilmu Kesehatan. 2023;1(1):21–39.

Most read articles by the same author(s)

Similar Articles

<< < 7 8 9 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.