Main Article Content

Abstract

Latar Belakang: Hasil Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) di tahun 2022 prevalensi stunting di Indonesia adalah 21,6%. Pada tahun 2022 Provinsi Sulawesi Barat menduduki peringkat kedua dengan stunting yang tinggi. Di Sulawesi Barat, Kabupaten Polewali Mandar berada di peringkat kedua dengan prevalensi balita stunting sebesar 39,3%. Berdasarkan Dinas Kesehatan Polewali Mandar bahwa kasus stunting di Kabupaten Polman mengalami kenaikan di tahun 2023. sebesar 29,85%. Dari kenaikan jumlah yang mengalami stunting tentunya menjadi masalah karena kenaikan stunting yang cukup pesat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar risiko kejadian stunting pada balita usia (0-59 bulan) di wilayah kerja Puskesmas Pekkabata Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat. Metode: Desain penelitian menggunakan desain studi case control. Populasi seluruh balita stunting dan balita tidak stunting usia 0-59 bulan. Pengambilan sampel dengan purposive sampling menghasilkan 152 responden (masing-masing 76 kasus dan kontrol). Hasil: Hasil penelitian didapatkan faktor risiko stunting adalah pendidikan ibu (OR=2,06;95% CI=0,980-4,396), tinggi badan ibu (OR=2,56; 95% CI=1,221-5,422), usia ibu saat hamil (OR=6,79; 95% CI=2,612-19,626), berat badan lahir anak (OR=2,41;95% CI=0,634-11,195), Status KEK (OR=7,81;95% CI=2,436-32,504). Kesimpulan: Pendidikan ibu, tinggi badan ibu, usia ibu saat hamil, berat badan lahir anak dan status KEK menjadi faktor risiko penyebab stunting pada balita usia 0-59 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas PekkabataLatar Belakang: Hasil Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) di tahun 2022 prevalensi stunting di Indonesia adalah 21,6%. Pada tahun 2022 Provinsi Sulawesi Barat menduduki peringkat kedua dengan stunting yang tinggi. Di Sulawesi Barat, Kabupaten Polewali Mandar berada di peringkat kedua dengan prevalensi balita stunting sebesar 39,3%. Berdasarkan Dinas Kesehatan Polewali Mandar bahwa kasus stunting di Kabupaten Polman mengalami kenaikan di tahun 2023. sebesar 29,85%. Dari kenaikan jumlah yang mengalami stunting tentunya menjadi masalah karena kenaikan stunting yang cukup pesat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar risiko kejadian stunting pada balita usia (0-59 bulan) di wilayah kerja Puskesmas Pekkabata Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat. Metode: Desain penelitian menggunakan desain studi case control. Populasi seluruh balita stunting dan balita tidak stunting usia 0-59 bulan. Pengambilan sampel dengan purposive sampling menghasilkan 152 responden (masing-masing 76 kasus dan kontrol). Hasil: Hasil penelitian didapatkan faktor risiko stunting adalah pendidikan ibu (OR=2,06;95% CI=0,980-4,396), tinggi badan ibu (OR=2,56; 95% CI=1,221-5,422), usia ibu saat hamil (OR=6,79; 95% CI=2,612-19,626), berat badan lahir anak (OR=2,41;95% CI=0,634-11,195), Status KEK (OR=7,81;95% CI=2,436-32,504). Kesimpulan: Pendidikan ibu, tinggi badan ibu, usia ibu saat hamil, berat badan lahir anak dan status KEK menjadi faktor risiko penyebab stunting pada balita usia 0-59 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas PekkabataLatar Belakang: Hasil Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) di tahun 2022 prevalensi stunting di Indonesia adalah 21,6%. Pada tahun 2022 Provinsi Sulawesi Barat menduduki peringkat kedua dengan stunting yang tinggi. Di Sulawesi Barat, Kabupaten Polewali Mandar berada di peringkat kedua dengan prevalensi balita stunting sebesar 39,3%. Berdasarkan Dinas Kesehatan Polewali Mandar bahwa kasus stunting di Kabupaten Polman mengalami kenaikan di tahun 2023. sebesar 29,85%. Dari kenaikan jumlah yang mengalami stunting tentunya menjadi masalah karena kenaikan stunting yang cukup pesat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar risiko kejadian stunting pada balita usia (0-59 bulan) di wilayah kerja Puskesmas Pekkabata Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat. Metode: Desain penelitian menggunakan desain studi case control. Populasi seluruh balita stunting dan balita tidak stunting usia 0-59 bulan. Pengambilan sampel dengan purposive sampling menghasilkan 152 responden (masing-masing 76 kasus dan kontrol). Hasil: Hasil penelitian didapatkan faktor risiko stunting adalah pendidikan ibu (OR=2,06;95% CI=0,980-4,396), tinggi badan ibu (OR=2,56; 95% CI=1,221-5,422), usia ibu saat hamil (OR=6,79; 95% CI=2,612-19,626), berat badan lahir anak (OR=2,41;95% CI=0,634-11,195), Status KEK (OR=7,81;95% CI=2,436-32,504). Kesimpulan: Pendidikan ibu, tinggi badan ibu, usia ibu saat hamil, berat badan lahir anak dan status KEK menjadi faktor risiko penyebab stunting pada balita usia 0-59 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Pekkabata.

Keywords

Stunting Pendidikan ibu Usia ibu saat hamil Berat badan lahir anak KEK

Article Details

Author Biographies

Gabryella Laura Mongan, Departemen Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin

Departemen Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin

Wahiduddin Wahiduddin, Departemen Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin

Departemen Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin

Indra Dwinata, Departemen Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin

Departemen Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin

How to Cite
Mongan, G. L., Wahiduddin, W., & Dwinata, I. (2024). KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA (0– 59 BULAN) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PEKKABATA KABUPATEN POLEWALI MANDAR. Hasanuddin Journal of Public Health, 5(2), 217–228. https://doi.org/10.30597/hjph.v5i2.35491

References

  1. Ramdhani A, Handayani H, Setiawan A. Hubungan Pengetahuan Ibu Dengan Kejadian Stunting. In: Prosiding Seminar Nasional LPPM UMP. 2021. p. 28–35.
  2. Amazihono IK, Harefa EM. Hubungan Sosial Ekonomi Dan Karakteristik Ibu Dengan Kejadian Stunting Pada Anak Balita. Jurnal Ilmiah PANNMED (Pharmacist, Analyst, Nurse, Nutrition, Midwivery, Environment, Dentist). 2021;16(1):235–42.
  3. Supratti S, Iqra I, Nurbaya N. Pemberdayaan Peran Suami dalam Upaya Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu. JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri). 2022;6(1):312–8.
  4. Dina D, Nurhasanah S, Suharni S. Peran Edukasi Remaja dalam Pencegahan Stunting. DELIMA: Jurnal Kajian Kebidanan. 2023;1(2):38–51.
  5. Prabawati E, Andriani R. Hubungan Tingkat Pendidikan dan Pengetahuan dengan Kejadian Stunting Pada Balita 0-59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Batauga Kabupaten Buton Selatan Tahun 2020. Kampurui Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2021;3(1):12–8.
  6. Baidho F, Sucihati F, Pratama YY. Hubungan Tinggi Badan Ibu Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 0-59 Bulan Di Desa Argodadi Sedayu BantuL. Jurnal Kesehatan Komunitas Indonesia. 2021;17(1).
  7. Pusmaika R, Novfrida Y, Simatupang EJ, Djami MEU, Sumiyati I. Hubungan Usia Ibu Saat Hamil dengan Kejadian Stunting Pada Balita di Kabupaten Tangerang. Indonesian Health Issue. 2022;1(1):49–56.
  8. Andini V, Maryanto S, Mulyasari I. HUBUNGAN PANJANG BADAN LAHIR, BERAT BADAN LAHIR DAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF TERHADAP KEJADIAN STUNTING PADA BADUTA USIA 7-24 BULAN DI DESA WONOREJO KECAMATAN PRINGAPUS KABUPATEN SEMARANG: THE CORRELATION BETWEEN BIRTH LENGTH, BIRTH WEIGHT AND EXCLUSIVE BREASTFEEDING WITH THE INCIDENCE OF STUNTING IN CHILDREN AGE GROUP 7-24 MONTHS IN WONOREJO VILLAGE, PRINGAPUS DISTRICT, SEMARANG REGENCY. Jurnal Gizi Dan Kesehatan. 2020;12(27):49–58.
  9. Diana R. HUBUNGAN STATUS GIZI IBU SAAT HAMIL DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 24-59 BULAN di WILAYAH KERJA PUSKESMAS REJOSARI KOTA PEKANBARU. SEHAT: Jurnal Kesehatan Terpadu. 2023;2(2):30–8.
  10. Rahmawati D, Agustin L. Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu Dan Pemberian Informasi Tentang Stunting Dengan Kejadian Stunting (Relationship Of Mother’s Level Of Education And Providing Information About Stunting With Stunting Events). Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 2020;9(1).
  11. Komalasari K, Supriati E, Sanjaya R, Ifayanti H. Faktor-faktor penyebab kejadian stunting pada balita. Majalah Kesehatan Indonesia. 2020;1(2):51–6.
  12. Akbar H, Ramli M. Faktor Sosial Ekonomi dengan kejadian stunting pada anak usia 6-59 Bulan di Kota Kotamobagu. Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI). 2022;5(2):200–4.
  13. Salsabila S, Noviyanti RD, Kusudaryati DPD. Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu dan Pola Asuh Orang Tua dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 12-36 Bulan di Wilayah Puskesmas Sangkrah. PROFESI (Profesional Islam): Media Publikasi Penelitian. 2022;19(2):143–52.
  14. Winarni LM, Prihandini B, Ratnasari F. Hubungan Antara Tinggi Badan Orang Tua Dan Pemberian Asi Eksklusif Terhadap Kejadian Stunting Di Puskesmas Sepatan Kabupaten Tangerang. Jurnal Kebidanan Malahayati. 2021;7(4):688–96.
  15. Nurhidayati T, Rosiana H, Rozikhan R. Usia Ibu saat Hamil dan Kejadian Stuntng pada Anak Usia 1-3 Tahun. Midwifery Care Journal. 2020;1(5):122–6.
  16. Khairani MD, Tjahjono K, Rosidi A, Margawati A, Noer ER. Faktor determinan riwayat kehamilan dan kelahiran sebagai penyebab stunting. AcTion: Aceh Nutrition Journal. 2023;8(1):70–80.
  17. Wati RW. Hubungan riwayat bblr, asupan protein, kalsium, dan seng dengan kejadian stunting pada balita. Nutrizione: Nutrition Research And Development Journal. 2021;1(2):1–12.
  18. Nurlaeli N, Ryadinency R, Irawati A. Faktor risiko kejadian stunting pada balita di kota palopo. Darussalam Nutrition Journal. 2022;6(1):1–7.
  19. Dhewi S. Hubungan Antara Faktor Risiko pada Ibu Hamil dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Mandastana, Kabupaten Barito Kuala. Jurnal Kesehatan Indonesia. 2024;14(1):48–54.
  20. Apriningtyas VN, Kristini TD. Faktor prenatal yang berhubungan dengan kejadian stunting anak usia 6-24 bulan. Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia. 2019;14(2):13–7.

Similar Articles

1 2 3 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.