PENINGKATAN KAPASITAS MASYARAKAT DALAM MITIGASI KONFLIK MANUSIA-GAJAH DI UNIT PEMUKIMAN TRANSMIGRASI PAYA GUCI KABUPATEN PIDIE PROVINSI ACEH

Authors

  • Cut Maila Hanum sekolah tinggi ilmu kehutanan Banda Aceh
  • Dedi Kiswayadi Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan Pantekulu Banda Aceh
  • Zakiah Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan Pantekulu Banda Aceh
  • Ismed Ramadhan Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan Pantekulu Banda Aceh

DOI:

https://doi.org/10.20956/pa.v6i2.13045

Keywords:

Community capacity, conflict mitigation, Elephas maximus sumatranus

Abstract

From 2015 to October 2020, there were 95 recorded conflicts between humans and elephants in six sub-districts in Pidie District, Aceh province. One of the sub-districts in the Tangse sub-district is Paya Guci village, an area of ​​the Transmigration Settlement Unit (UPT). Farmers in this area are very vulnerable to elephant disturbance, which causes economic losses and has adverse effects on human social life, culture, and survival. Lack of public understanding of ecology and behavior and efforts to mitigate conflicts between humans and elephants require training to increase knowledge, especially understanding how to prevent elephant disturbances by not killing, poisoning wisely, and trapping. The participatory discussion method was carried out for four days, from 2 to 4 December 2020, at the Paya Guci Transmigration Settlement Unit, Tangse District, Pidie Regency. This training uses the room method (delivery of material) and field practice. It can be said that the level of understanding of community members of the ecology, behavior, and habitat that elephants like is still low; after this activity, perceptions and attitudes that are compatible with the provisions of conservation emerge, how to control wiser elephants, so that a commitment is built to form a Care Community group jointly. Wildlife Conflict (MPKSL) at the village level. ---  Dalam kurun waktu tahun 2015 sampai dengan Oktober 2020 tercatat telah terjadi konflik antara manusia dengan gajah sebanyak 95 kali di enam kecamatan pada Kabupaten Pidie provinsi Aceh. Salah satu kecamatan adalah kecamatan Tangse desa Paya Guci yang merupakan kawasan Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT). Kelompok petani pada kawasan ini sangat rentan dengan gangguan gajah yang tidak hanya menyebabkan kerugian secara ekonomi namun juga mengakibatkan efek negatif kepada kehidupan sosial manusia, budaya dan pada keberlangsungan hidup. Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap ekologi dan prilaku serta upaya mitigasi konflik antara manusia dan gajah, diperlukan pelatihan untuk peningkatan pemahaman khususnya pemahaman terhadap bagaimana   melakukan tehnik pencegahan terhadap gangguan gajah secara bijak dengan tidak membunuh, meracun dan menjerat. Metode diskusi partisipatif dilaksanakan selama 4 hari yaitu tanggal 2 sampai 4 desember 2020 bertempat di Unit Pemukiman Transmigrasi Paya Guci Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie. Pelatihan ini menggunakan metode ruangan (penyampaian materi) dan praktek lapangan. Dapat dikatakan bahwa tingkat pemahaman warga masyarakat terhadap ekologi, prilaku dan habitat yang disukai gajah masih rendah, setelah kegiatan tersebut muncul persepsi dan sikap yang bersuaian dengan ketentuan konservasi bagaiman tehnik penaggulangan gajah yang lebih bijak, sehingga terbangun komitmen untuk bersama-sama membentuk kelompok Masyarakat Peduli Konflik Satwa Liar (MPKSL) di tingkat gampung.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Azmi, W., Linkie, M., Rood, E., Siahaan, B., Federick son Gabriella, Wibisono, I., Cekmat, A., Basrul, A., & Griffiths, M. (2009). Pengelolaan Pelestarian Gajah Terpadu, dan Penanganan Konflik Gajah dengan Manusia di Nangroe Aceh Darussalam. Banda Aceh

Berliani K, Alikodra, H. S., Masy’ud, B. & Kusrin, M. D. (2015). Upaya Dan Peran Serta Masyarakat Dalam Menanggulangi Konflik Manusia-Gajah (Elephas maximus sumatranus) Di Provinsi Aceh. Prosiding Seminar Nasional Biotik 2015 ISBN: 978-602-18962-9-7

Dewi, P.S., & Widiyawati, I. (2019). Penerapan teknologi budidaya tanaman obat sebagai upaya pemanfaatan lahan pekarangan di Kelurahan Pabuwaran, Purwokerto, Jawa Tengah. Jurnal Panrita Abdi, 3(2), 105 - 112.

Direktorat KKH (2019). Rencana Tindakan Mendesak Penyelamatan Populasi Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) 2019-2022, pp. 1–21.

Goswami, V. R., Vasudev D., & Oli M. K. (2014). The importance of conflict-induced mortality for conservation planning in areas of human–elephant cooccurrence. Biological Conservation 176, hal 191-198.

Jadhav, S. & Barua, M. (2012). The Elephant Vanishes: Impact of human–elephant conflict on people's wellbeing. Health & Place 18 (6), hal 1356-1365.

Kamarullah, Nafsiatun, Hendri, M. I., & Widiyantoro, A. (2019). Peningkatan Perilaku Peduli Hukum Dan Lingkungan Melalui Program Kemitraan Masyarakat Peduli Hukum. Dinamisia Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 3(1), 1–6.

Kudsiah, H., Rahim, S.W., Rifa’i, M.A., & Arwan. (2018). Demplot Pengembangan Budidaya Kepiting Cangkang Lunak di Desa Salemba, Kecamatan Ujung Loi, Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan. Jurnal Panrita Abdi, 2(2), 151-164.

Kuswanda, W. & Barus, S. P. (2018). Karakteristik Sosial Ekonomi Dan Kebijakan Mitigasi Konflik Manusia-Gajah Di Resort Besitang, Taman Nasional Gunung Leuser. Jurnal Inovasi Vol. 15 No. 2 Oktober 2018: 153-162

Patittingi, F., Hasrul, M., Marwah, Amaliyah, & Kurniawati, A. (2021). Urgensi Pemahaman Data Fisik dan Data Yuris Kepemilikan Hak Atas Tanah di Desa Pattiro Bajo, Kabupaten Bone. Jurnal Panrita Abdi, 5(1), 115-120.

Rifa’i, M.A., Candra, Muzdalifah, Agustina, & Kudsiah, H., Mubarak, M.S., & Norliana. (2021). Transfer Teknologi Pembuatan Sosis Berbahan Baku Ikan Patin (Pangasius sp) bagi Kelompok Pembudidaya Ikan dan Keluarganya. Jurnal Panrita Abdi, 5(4), 589-599.

Sitompul, A. F. (2011) ‘Ecology and conservation of Sumatran elephants (Elephas maximus sumatranus) in Sumatra, Indonesia’, ProQuest Dissertations and Theses, p. 124. Available at: http://search. proquest. com/docview/ 860140465 ? Accountid =13771.

Sukmara, M.D.P. & Dewi B.S. (2012). Mitigasi konflik manusia dan gajah sumatera (Elephas maximus Sumatranus Temminck, 1847) menggunakan gajah patroli di resort pemerihan taman nasional bukit barisan selatan. J. Sains MIPA18 (3), 91 – 100.

Qomariah, I.N. (2018). Konflik Manusia Dan Gajah: Dampak Hilangnya Hutan Yang Tak Terlihat. http:// wri-indonesia.org/id/blog:

Downloads

Published

2022-01-15