PEMANFAATAN INDIGO SEBAGAI PEWARNA ALAMI RAMAH LINGKUNGAN BAGI PENGRAJIN BATIK ZIE

Authors

  • Nana Kariada Martuti Universitas Negeri Semarang
  • Isti Hidayah Universitas Negeri Semarang
  • Margunani Margunani Universitas Negeri Semarang

DOI:

https://doi.org/10.20956/pa.v3i2.6454

Keywords:

Natural dye, batik, indigo, eco-friendly

Abstract

Utilization of Indigo as Eco-Friendly Natural Dyes for Zie Batik CraftsmenAbstract. Batik is a cultural identity of Indonesian society which currently developing dynamically. The use of natural dyes by utilizing plants is being developed by several batik artisans. This service activity aims to facilitate partners to be able to utilize indigo as natural dyes of environmentally friendly batik and be able to compete in the international market. The activities are conducted with Batik Zie as partners in Kampung Malon, Gunungpati District, Semarang, by facilitating partners to negotiate and collaborate with suppliers of natural dye raw materials, conduct training and mentoring indigo pasta making. Besides that, it also promotes products through exhibitions and documentation of activities. While the use of Indigofera Tinctoria L extract, Crusia Strobilantes could produce light blue, turquoise blue and dark blue. The collaboration with UKM ISUGA makes the availability of indigo pasta as a natural dye became well maintained. While indigo has a role in staining light blue to dark blue natural dyes. Utilization of natural dyes is eco-friendly and does not harm/pollute the environment. Partner participation in 3 exhibitions, makes the batik products could compete in the international market.Keywords: Natural dye, batik, indigo, eco-friendlyAbstrak. Batik merupakan identitas budaya masyarakat Indonesia saat ini berkembang secara dinamis. Penggunaan pewarna alami dengan memanfaatkan tanaman sedang dikembangkan oleh beberapa pengrajin batik. Kegiatan ini bertujuan untuk  memfasilitasi mitra agar mampu memanfaatkan indigo sebagai pewarna alami batik ramah lingkungan dan mampu bersaing di pasar internasional. Kegiatan dilakukan dengan Mitra Batik Zie yang berada di Kampung Malon, Kecamatan Gunungpati, Semarang, dengan memfasilitasi mitra untuk negosiasi dan kerjasama dengan suplier penyedia bahan baku pewarna alami, melakukan pelatihan dan pendampingan pembuatan pasta indigo. Di samping itu juga mempromosikan produk melalui pameran serta melakukan dokumentasi kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa penggunaan ekstraksi indigo (Indigofera tinctoria L, strobilantes crusia) dapat menghasilkan warna biru muda, biru kehijauan serta biru tua. Adanya kerjasama dengan UKM ISUGA, menjadikan ketersediaan pasta indigo sebagai pewarna alami selalu terjaga. Sedangkan indigo mempunyai peran dalam pewarnaan biru muda hingga biru tua. Penggunaan pewarna alami tersebut bersifat ramah lingkungan dan tidak mencemari lingkungan. Keikutsertaan mitra dalam 3  pameran, menjadikan produk batik mitra turut bersaing di pasar internasional.Kata kunci. Pewarna alami, batik, indigo, ramah lingkungan

References

Alamsyah. (2018). Kerajinan Batik dan Pewarnaan Alami. Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi 1(2), 136-148.

Gultom, J., Siagian, M., Tamba, U.J.R., Bukit, J., & Simorangkir, M. (2017). Ekstrak daun salaon (Indigofera tinctoria L) sebagai pewarna alami ulos dalam upaya pelestarian kearifan lokal budaya batak. Jurnal Pendidikan Kimia. 9(2), 293-298.

Handayani, P.A & Mualimin, A.A. (2013). Pewarna Alami Batik Dari Tanaman Nila (Indigofera) dengan Katalis Asam. Jurnal Bahan Alami Terbarukanl 2( 1), 1-6.

Her & Eka. (2002). Teknologi Pewarna Alam. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Kerajinan dan Batik. Yogyakarta.

Kudsiah, H., Tresnati, J., & Ali , S. A. (2018). IbM Kelompok Usaha Bandeng Segar Tanpa Duri di Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan. Panrita Abdi Jurnal, 2(1), 55-63.

Kumar, A.S.R., Gandhimathi, L.S., Mohana, N., & Rahul, K.C.K. (2009). Evaluation of the antinociceptive properties from Indigofera tinctoria L extracts. Sree Vidyanikethan College of Pharmacy. Sree Sainath Nagar. Chandragiri (M). Tirupati. Andhara Pradesh. India. Journal of Pharmaceutical Sciences and Research, 1:31-37.

Kwartiningsih, E., Setyawardhani, D.A., Wiyatno, A., & Triyono, A. (2009). Zat Pewarna Alami Tekstil dari Kulit Buah Manggis. EKUILIBRIUM 8(1), 41 –47

Martuti, N.K.T., Soesilowati, E., & Na’am, M.F. (2017). Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Melalui Penciptaan Batik Mangrove. Abdimas 21( 1): 65-74

Martuti, N. K. T., Margunani & Hidayah, I. (2018). Peran Mangrove dalam Perkembangan Batik Pesisiran di Kota Semarang. Semnas : Konservasi dan Pemanfaatan Keragaman Hayati untuk Kesejahteraan Bangsa ejurnal.unisri.ac.id :45-52. https://www.ejurnal.unisri.ac.id/index.php/ prosemnas/article/viewFile/2102/1872

Parmono, K. (2013). Nilai Kearifan Lokal Dalam Batik Tradisional Kawung Jurnal Filsafat 23(2), 135-146.

Paryanto., Kwartiningsih, E., Agung, W., Pranolo, S.H., Haningtyas, V., Hidayat, R., & Roy, I.S. (2015). Pengambilan Zat Warna Alami Dari Buah Mangrove Spesies Rhizophora Mucronata Untuk Pewarna Batik Ramah Lingkungan. Jurnal Purifikasi 15(1), 34-40.

Pringgenies, D., Yudiati, E., Nuraeni R.A.T., & Susilo, E.S. (2017). Pemberdayaan Kelompok Wanita Nelayan Pesisir Pantai dengan Aplikasi Teknologi Pewarna Alam Limbah Mangrove Jadi Batik di Mangkang Kecamatan Tugu Semarang. Jurnal Panrita Abdi, 1(2), 83-89.

Purwanto. (2018). Hasil Uji Beda Warna Bahan Alami Sebagai Salah Satu Alternatif Pewarnaan pada Bahan Kain Batik. Jurnal Itenas Rekarupa 1 (5), 54-61.

Rifa’i, M.A., Kudsiah, H., Syahdan, M., & Muzdalifah. 2017. Alih teknologi produksi benih anemon laut secara aseksual. Jurnal Panrita Abdi, 1(1), 33-39.

Satria, Y & Suheryanto, D. (2016). Pengaruh Temperatur Ekstraksi Zat Warna Alam Daun Jati Terhadap Kualitas dan Arah Warna Pada. Jurnal Dinamika Kerajinan dan Batik 33(2), 101-110.

Downloads

Published

2019-10-14